Minggu, 01 Januari 2012
MACAM MACAM PLASTIK
Macam Macam plastik : PP (Polypropylene), bahan plastik yang digunakan untuk dipakai pada packing makanan kering / snack. sedotan, kantong obat, penutup, cup, tas, botol, dsb. PE (Poly Ethylene), bahan plastik yang digunakan sebagai packing minuman atau barang-cairan, seperti es batu, syrup, maupun minuman lainnya.OPP (Oriented Polystyrene), sangat bening, kurang tahan panas. Digunakan untuk mempacking roti & snack, t-shirt, jackets, baju. Menambah keindahan penamplan produk. Supaya tidak mudah robek dipergunakan double layer side & gusset. HDPE (High Density Polyethylene), bahan plastik yang bewarna putih susu atau putih bersih. Digunakan untuk kantong tissue, botol detergent dan minyak, dan plastik anti panas, pipa plastik.shoppingbag dan kantong plastik yang Cocok untuk kantung sayur makanan yang berkuah karena fleksibel dengan kekuatan tinggi.<!-- more --!> LDPE (Low Density Polyethylene), bahan plastik yang digunakan untuk pelapis kaleng. Plastik pembungkus makanan supaya tetap hangat (food wrapping). Kantong grocery, bungkus roti, tas plastik fleksibel dengan kekuatan remas.PET (Polyethylene Terephthalate) adalah polimer jernih dan kuat dengan sifat-sifat penahan gas dan kelembaban. Kemampuan plastik PET untuk menampung karbon dioksida (karbonasi) membuatnya sangat ideal untuk digunakan sebagai botol-botol minuman ringan (bersoda / terkarbonasi). Selain itu plastik PET juga sering digunakan sebagai botol air minum kemasan. Polystyrene (PS) bersifat berubah bentuk & berbunyi. Bahan plastik yang digunakan untuk gabus (styrofoam, cup, box, tray daging, tempat telur) Plastik Cor adalah bahan plastik yang biasa dipergunakan untuk pengecoran bangunan. PVC (Poly Vinly Chlorine), bahan plastik yang dipergunakan untuk packing botol minyak, daging, pipa air dan jendela plastik. Lunchbox Polystyrene, bahan plastik yang digunakan untuk packing makanan ringan, nasi, dll Karet bahan karet berupa karet gelang, terbagi dari super dan campuran super terbuat dari bahan murni. Transparan dan bersifat kuat dan elastis. Tersedia ukuran kecil bahan campuran tidak bening, kurang elastis dan tersedia ukuran besar Plastik Vacuum berupa campuran bahan nylon dan PE/PVC digunakan untuk membungkus sayur, buah, daging yang hampa udara dan siap dimasak / dimakan Plastik Mika berbahan campuran antara bahan PP/PE/PVC biasanya digunakan untuk album, taplak meja, sampul, bungkus dll
BISNIS
Di dalam memulai suatu bisnis kadang kita hanya menghitung berapa keuntungan yang akan kita dapat, maka dihitunglah seluruh pengeluaran dan seluruh pemasukan dan sisanya akan menjadi keuntungan atau kerugian. Sehingga apabila kita yang mulai dapat tawaran berbisnis selalu menghitung dari segi untung dan rugi saja. Apakah rekan-rekan memperhitungkan sebuah kesempatan itu ‘Loss atau Cost’?? Opportunities Loss adalah kesempatan yang hilang. Opportunities Cost adalah biaya yang ditimbulkan oleh kesempatan. Sesuatu kesempatan bisnis itu bisa loss atau bisa juga menimbulkan cost. Kita lihat 2 tawaran bisnis ini dihadapkan di depan kita: 1.Bisnis ‘Bakso’ dengan modal 10 jt tingkat keuntungan bersih per bulan adalah 3 jt sehingga bisa dihitung tingkat BEP kita adalah 3,3% bulan. Dalam setahun sehingga kita bisa mendapatkan keuntungan 36 jt. Dan prosentase keuntungan kita adalah 30% dari modal perbulannya. 2.Bisnis ‘Kontrakan’ dengan modal 100 jt tingkat keuntungan bersih per bulan adalah 5 jt Sehingga tingkat BEP nya adalah 20 bulan. <!-- more --> Dalam setahun mendapat keuntungan 60 jt. Dan proesentase keuntungannya adalah 5 % dari modal perbulannya. Apabila rekan-rekan mempunyai uang 100 jt bisnis apa yang akan di pilih..????? Jika rekan memilih bisinis yang ke-2 dengan alasan karena tingkat resikonya lebih kecil dan lebih mempunyai prospek jangka panjang dan nominal keuntungan lebih besar. Mari Kita lihat apakah ‘bisnis opportunities’ yang kita ambil itu Loss atau Cost….. Kalau memilih bisnis ke-2, maka bisnis ‘bakso’ adalah sebuah opportunities loss.(kesempatan yang hilang) Kita kehilangan bisnis ‘bakso’ karena uang kita tidak bisa untuk bisnis bakso. Dikarenakan uang kita habis untuk memilih bisnis ‘kontrakan’ Keuntungan yang didapat bisnis ‘bakso’ sebesar 3 jt adalah opportunities cost. (biaya yang timbul dari kesempatan) Karena kita akan kehilangan keuntungan akan bisnis ‘bakso’ yang seharusnya kita dapatkan jika memilihnya. Jadi keuntungan ekonomi dari bisnis ‘kontrakan’ adalah keuntungan akunting – opportunities cost yaitu 5 jt – 3 jt = 2 jt Sehingga keuntungan ekonomi akan bisnis ‘kontrakan’ hanya 2 % saja tiap bulan. Apabila rekan-rekan uang itu didapat dari bank dengan bunga 1,8% per bulan maka keuntungan ekonominya adalah hanya 0,2 % per bulan. Sedangkan bila pinjam dari BPR dengan bunga 2,5% per bulan maka akan terjadi kerugian ekonomi sebesar 0,5% per bulan. Apakah rekan-rekan mau dengan mengambil Bisnis ini…?? Bagaimana Jika Kita memilih bisnis bakso.?? Kita lihat artikel selanjutnya
PERJUANGAN
Ketika seseorang tengah berjuang untuk mendapatkan nafkahnya, kita biasa menyebutnya ‘sedang mencari penghidupan’. Sedangkan ketika seseorang memberi nilai kepada dunia dengan apa yang bisa dilakukannya, maka kita menyebutnya; ‘berkontribusi kepada kehidupan’. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, namun antara ‘penghidupan’ dan ‘kehidupan’ itu terdapat perbedaan yang signifikan. Albert Schweitzer menggambarkannya dalam sebuah kalimat yang indah; “We make a living by what we get, but we make a life by what we give”. Kita memperoleh penghidupan dengan apa yang kita dapatkan, namun kita membangun kehidupan dengan apa yang kita berikan. Dalam nasihat itu ada sebuah isyarat untuk terus gigih berusaha agar mendapatkan nafkah yang layak. Namun pada saat yang sama, kita diingatkan untuk berkontribusi kepada orang lain. Mengapa?<!-- more --> Karena nilai hidup kita tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan kita, melainkan oleh kontribusi kita. Mana yang harus didahulukan; penghidupan ataukah kehidupan? Idealnya, keduanya bisa berjalan saling beriringan. Namun, hal itu bukan soal yang mudah. Kebutuhan nafkah sering menempatkan saya pada situasi dimana ‘mendapatkan’ sesuatu harus menjadi prioritas sehingga ‘memberikan’ sesuatu sering terabaikan. Awalnya saya percaya bahwa ‘nanti kalau saya sudah sukses’ maka saya akan bisa ‘memberi atau melakukan sesuatu’ untuk orang lain. Namun, kenyataannya saya tidak pernah sampai kepada titik yang bernama ‘nanti’ itu. Hal itu berlangsung terus sampai saya menemukan bahwa kita bisa berkontribusi melalui hal-hal yang paling sederhana. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berkontribusi melalui hal-hal sederhana seperti yang saya maksud; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini: 1. Berkontribusi tidak selalu berupa materi. Selama masih mengira bahwa berkontribusi harus selalu dengan materi maka seseorang akan selalu dihadapkan kepada perbenturan antara kebutuhan keluarganya dengan ‘panggilan hati’. Oleh sebab itu, wacana kontribusi sering menjadi seperti hak istimewa orang-orang yang memiliki kelapangan harta. Jika untuk memenuhi keperluan biaya sekolah anak saya saja masih harus pusing tujuh keliling, bagaimana saya bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Untungnya, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa memberi tidak harus selalu berupa materi. “Jika Engkau punya tenaga, maka tenagamu adalah sumberdaya utama dalam berkontribusi,” begitu nasihatnya. Mungkin dengan waktu, atau ilmu yang Engkau miliki. Mungkin dengan sekedar sebuah kalimat penyemangat. Atau, bahkan sekedar dengan senyum yang menyenangkan hati orang-orang yang melihatmu. Ada banyak cara untuk berkontribusi. Dan semuanya itu, tidak harus berupa materi. 2. Menemukan misi hidup. Kita sering melihat orang-orang yang tanpa lelah terus berkontribusi kepada kehidupan orang lain. Sekalipun untuk itu mereka harus berbagi energy dan usaha. Bahkan disaat hidupnya sendiri sedang ‘tidak terlampau indah’, mereka terus gigih untuk membuat hidupnya berarti. Mengapa begitu? Seseorang mengajarkan sebuah jawaban yang membuat hati saya terpana. “Misi hidup,” katanya. Yakinlah bahwa kehadiran kita di muka bumi bukanlah tanpa misi. Sayangnya, kita sering lupa atas misi yang kita emban itu sehingga kita terlena dalam jibaku perjuangan mempertahankan hidup. Akhirnya kita tenggelam dalam kesibukan mencari penghidupan. Suatu hari, seseorang bertanya kepada saya “Apa misi hidupmu Nak?” Saya tidak dapat menjawabnya. “Temukan itu didalam hatimu,” katanya. “Tanpa itu, Engkau tidak akan pernah menjadi rahmatan lil’alamin” 3. Hidup bukan sekedar soal duniawi. Kita sudah sejak lama percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Jika hal itu benar, maka setiap tindakan kita selama hidup di dunia menjadi patokan seberapa baiknya kualitas kehidupan kita dialam setelah kematian. Semakin banyak kontribusi yang kita berikan semasa hidup, semakin baik pula apa yang bisa kita dapatkan di dunia baru yang kelak akan kita huni. Jika kontribusi kita hanya sedikit, barangkali hanya sedikit juga apa yang akan kita dapat. Lantas, bagaimana jadinya kehidupan kita nanti jika kita tidak berkontribusi sama sekali? Pantaslah jika guru kehidupan saya selalu mengingatkan bahwa;”sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” Beliau mengingatkan agar tidak terlalu sering terjebak untuk mengurusi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Apalagi sampai terjebak dalam ego yang menutupi hati sehingga sangat sulit untuk dimasuki panggilan-panggilan suci. Padalah, hidup bukan sekedar soal duniawi. 4. Bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Hidup adalah pertanda masih adanya energy didalam diri kita. Sedangkan energy didalam setiap individu merupakan perpaduan antara energy positif dan energy negatif. Maka wajar jika bentuk aliran energy didalam diri kita sangat dipengaruhi oleh bentuk energy yang ada di sekitar kita. Sangat sulit untuk menjadi positif jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap negatif, misalnya. Atau sebaliknya, saat berinteraksi dengan orang-orang yang bersikap dan bertindak secara positif, kita jadi lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang positif. Hal itu pasti terjadi baik secara terpaksa maupun sukarela. Di lingkungan orang-orang positif kita akan ikut ‘terbawa arus’ positif. Jadi jika ingin ‘merasa ringan hati’ saat melakukan hal-hal yang positif, maka sebaiknya kita memperbanyak teman yang bersikap positif. 5. Memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi. Meskipun kita percaya bahwa cara untuk berkontribusi itu begitu banyaknya, tetapi tidak berarti kita bisa ikut berkontribusi. Boleh jadi karena kondisi tidak memungkinkan. Atau mungkin karena kita tidak ingin berkontribusi saja. Bagaimana pun juga kita adalah tuan bagi kehidupan kita sendiri sehingga kita berhak untuk menentukan apapun yang ‘kita lakukan’ atau ‘tidak kita lakukan’. Namun, kebebasan itu juga berarti bahwa kita tidak memiliki hak untuk menghalangi orang lain yang hendak berkontribusi untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Artinya, bersamaan dengan kewenangan kita untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri terselip sebuah kewajiban untuk menghargai aspirasi orang lain untuk berkontribusi. Maka sudah sepatutnya kita memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi, bukan? Sebentar dulu. Jika Anda memberi ruang kepada orang-orang yang hendak berkontribusi; maka sesungguhnya Anda pun sudah berkontribusi lho. Jika kita masih percaya akan keberadaan sisi baik dan sisi buruk dalam diri kita, maka kita pasti percaya bahwa kita bisa berkontribusi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki. Untuk memulainya, kita bisa bertanya kepada diri sendiri; nilai-nilai kebaikan apa yang bisa saya kontribusikan hari ini? Catatan Kaki: Banyak orang bersedekah karena percaya bahwa harta mereka akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya sedekah yang mereka berikan. Agar semakin bersemangat untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, mungkin kita juga harus belajar percaya bahwa kebaikan didalam diri kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan yang kita tebarkan.
Langganan:
Komentar (Atom)